Hotman Siahaan : Pembangkangan Terselubung Petani Dalam Program Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI) Sebagai Upaya Mempertahankan Subsistensi (1996).
Nov 11th, 2008 by Admin
Kegiatan ini merupakan salah satu proses belajar yang dilakukan oleh LIBRA (Lingkar Belajar Agraria). Proses belajarnya sendiri sudah berjalan sejak Pebruari 2008 yang lalu. Review Berbagai Buku, Literatur dan Disertasi (hasil penelitian) ini diselenggarakan pada tanggal 20-21 Agustus 2008 di Fisipol, UI Jakarta. Substansi yang bisa kita dipelajari dari kegiatan ini antara lain : riset (disertasi) Hotman Siahaan di Pasca Sarjana Universitas Airlangga Surabaya, dengan mengambil kasus di Kec. Papar Kediri (Jatim). Review dilakukan oleh Eko Cahyono. Pokok-pokok hasil review adalah sebagai berikut :
Perlawanan yang dilakukan orang-seorang, bukan tindakan dan di dukung oleh niat untuk bertahan, merupakan perlawanan simbolik yang hasil akhirnya tidak dapat diremehkan oleh pihak yang menjadi sasaran.
Tujuan perlawanan bukan untuk mengubah, apalagi menumbangkan sistem dominasi. Tujuan orang lemah hanyalah untuk bertahan diri dalam sistem itu, dengan kerugian sekecil-kecilnya, dilakukan tanpa henti, bernafas panjang. Itulah senjata kaum lemah!” (Sajogyo, Pengantar buku James C. Scott, “Perlawanan Kaum Tani, 1993).
Riset (disertasi) ini ingin menjawab 2 soal:
(1). Sejauh mana realitas pembangkangan terselubung dalam program TRI merupakan reaksi yang rasional terhadap hegemoni birokrasi yang gagal mengartikulasikan kepentingan para petani dalam program TRI?
(2). Sejauhmana pembangkangan terselubung tersebut sebagai upaya mempertahankan batas keamanan subsistensi petani demi kelangsungan hidupnya?
Titik tolak dari disertasi ini adalah “ Hendak menganalisa dan memetakan berbagai bentuk respon Petani terhadap Program (TRI) yang dibentuk melalui Inpres No. 9 Tahun 1975” yang telah menuai berbagai bentuk penolakan dan protes sosial; baik secara terbuka maupun terselubung. Khususnya di wilayah Kec. Papar Kab. Kediri Jawa Timur (1996).
Pada alas teoritik dan hipotesis, sejak awal Hotman meneguhkan pendasaran optik teoritiknya adalah dari James C. Scott; Everyday Forms of Peasant Resistance dan Samuel Popkin; Rational-Actors Theory yang dipakainya untuk menguji empat hipotesis utama:
1. Pembangkangan terselubung yang dilakukan oleh petani dalam program TRI adalah sebagai reaksi rasional guna mengartikulasikan kepentingan-kepentingan mereka terhadap hegemoni birokrasi dalam program TRI.
2. Pembangkangan terselubung yang dilakukan petani muncul di dalam tata hubungan produksi antara petani miskin dan petani kaya, dan antara petani dan berbagai institusi yang mendominasi tata hubungan produksi tersebut lewat aplikasi program TRI.
3. Dominasi jaringan birokrasi pemerintah di dalam program TRI, yang gagal mengartikulasikan kepentingan petani, merupakan factor-faktor yang paling menentukan lahirnya realitas pembangkangan terselubung tersebut.
4. Pembangkangan yang dilakukan para petani di dalam program TRI adalah sebagai upaya untuk mempertahankan batas keamanan subsistensi dengan menjalankan sistem demi kerugian minimal bagi diri para petani tersebut.
Dalam penelitiannya hipotesis yang di ajukan itu dapat dibuktikan kebenarannya. Kajian ini dapat menunjukkan beberapa hal menarik, diantaranya:
Program TRI lebih merupakan suatu usaha tani kontrak (contract farming) yang sarat muatan kepentingan ekonomi-politik negara guna mencapai tujuan utama yaitu industri gula nasional.
TRI sebagai Contract Farming berlangsung di dalam konteks fragmentasi tanah, dimana intensifikasi justru menimbulkan biaya-biaya sosial tinggi.
Pembangkangan terselubung yang dilakukan petani di Kediri ini adalah salah satu contoh model ‘perlawanan’ yang berlangsung dalam konteks kuatnya hegemoni dan intervensi negara beserta kekuatan aparatur birokrasinya. (melalui program TRI itu). Sehingga memiliki corak dan karakteristik tersendiri. Dan merupakan alternatif untuk mendapatkan selective incentives di dalam konteks hegemonik.
Paradoknya Inpres No.9/1975 yang memiliki tujuan ‘mulia’ guna menjadikan petani “tuan di atas tanahnya sendiri”, dalam realitasnya yang terjadi justru menjadi buruh di tanahnya sendiri. Dalam kajiannya Hotman melampiri banyak data empiris di beberapa desa di Kecamatan Papar yang menunjukkan proses “krisis agraria” ini terjadi secara sistematis dan terus menerus.
Sikap pembangkangan terselubung petani itu dilakukan dengan cara keluar dari sistem produksi TRI. Dalam beberapa kasus, petani memiliki berbagai “siasat” halus yang cerdik (tidak konfrontatif) untuk membangkang yang dilakukan sesuai dengan yang dimusuhinya. Misal: Siasat untuk “glebegan” (giliran tanam), Siasat untuk Tebang Angkut, Siasat untuk Jadwal Giling dan Siasat Rendeman dan Bagi Hasil dll.
Disini timbul paradok baru, sebab pada dasarnya pembangkangan tersebut membuka peluang efisiensi dan efektivitas dalam sistem produksi, namun kenyataannya, efisiensi dan efektivitas itu direduksi oleh tingginya regulasi dalam program TRI.
Hotman secara teoritis dalam riset ini hendak mengajukan teori pembangkangan terselubung dalam konteks teori-teori yang membicarakan protes-protes sosial dan tindakan kolektif petani. Dalam kesimpulannya, dia menyebutkan bahwa teori pembangkangan terselubung pengalaman petani TRI dapat dikategorikan sebagai everyday forms of peasant resistance, namun di dalam konteks memudarnya ikatan-ikatan tradisi desa, sehingga pembangkangan terselubung petani TRI tidak dalam upaya mempertahankan tradisi yang mengalami erosi akibat komersialisasi dan perluasan pasar.
Di sisi lain Hotman menegaskan bahwa “teori pembangkangan terselubung merupakan tindakan rasional dan individual para petani, tapi bukan dalam kategori Pilihan Rasional sebagaimana dikatakan Samuel Popkin.
Sebab menurutnya pengalaman pembangkangan TRI tidak bersifat terbuka, berlangsung secara informal, tidak dinyatakan, dan dalam skala kecil.”
Menurut Hotman, berkaca pada hasil pengalaman petani TRI yang ditelitinya di Kediri dan beberapa daerah lain di Jatim, “posisi teori Pembangkangan Terselubung yang dikemukakan dalam studinya ini merupakan eklektisasi yang berada di antara teori everyday forms of peasant resistance (Scott) dan Teori Pilihan Rasional (Popkin) yang dihubungkan oleh faktor kuatnya hegemoni negara, baik secara ideologis maupun material.
Pengalaman studi Hotman di Kediri menunjukkan sebuah bentuk-bentuk ‘perlawanan terselubung’ petani akibat kuatnya tirani hegemonik, sementara, kini struktur politik, ekonomi, sosial budaya ;hegemonik hari ini terlihat jauh lebih kompleks, rumit dan dalam skala yang lebih luas dan ‘mengglobal’.
Bagaimana ‘nafas perlawanan kaum tani’ kini,
kita kenali dan petakan? Optik apa yang relevan? Mengapa mereka melawan? Kondisi dan stuktur sosial-politik apa yang menciptakannya? Barangkali, dari sini, gerakan sosial (?) terbantu pemberangkatannya… ! Dan Hotman telah menyumbang salah satu ‘batu bata’nya untuk dilanjutkan.