Rumah Tradisional yang Semakin Marginal
Jun 11th, 2008 by ririn
Ada pemandangan baru yang bisa kita jumpai di desa-desa yang dulu pernah diterjang musibah gempa. Dua tahun yang lalu rumah-rumah warga porak poranda. Gempa berkekuatan 5,9 skala richter itu telah menorehkan duka yang dalam bagi segenap warga. Mereka harus rela kehilangan harta benda bahkan nyawa sanak saudara.
Kini hampir dua tahun berselang. Perlahan namun pasti, masyarakat mulai bangkit dengan kehidupannya. Melalui dukungan yang diberikan oleh berbagai pihak baik pemerintah, swasta, LSM bahkan lembaga donor internasional, masyarakat membangun lagi rumah-rumah yang roboh, membenahi fasilitas-fasilitas umum yang rusak, serta melakukan aktivitas ekonomi yang sempat terhenti. Hasilnya, sekarang rumah-rumah warga telah kembali tegak berdiri, jalanan desa sudah diperbaiki, dan aktivitas ekonomi mulai bergeliat lagi.
Tak ada orang yang berharap tertimpa musibah. Namun jika kita bisa menyikapi
dengan bijaksana, tentunya ada hikmah yang bersahaja. Sebagaimana disampaikan oleh Kepala Desa Brangkal bahwa bantuan-bantuan yang masuk ke desanya selain telah membantu warga secara langsung, sekaligus telah meningkatkan pembangunan di wilayahnya. Warga Brangkal menerima tak kurang dari 209 unit rumah dari Kompip, 22 unit dari GKI, 17 unit rumah dari JRF, dan 153 unit MCK dari CRS. Selain itu, warga juga mendapat bantuan untuk memperbaiki fasilitas umum seperti betonisasi jalan, pembangunan talud, gorong-gorong, dll dari KARSA-GTZ.
Ada pemandangan baru yang bisa kita jumpai di Brangkal, maupun desa-desa lain
yang dulu juga menjadi korban gempa. Selain infrastruktur desa yang kelihatan semakin membaik, selintas kita juga akan menemukan pemandangan baru dari rumah-rumah warga. Ada desain yang unik yang berbeda dari satu kelompok dengan kelompok yang lain. Bahkan kalau kita sempat berkeliling ke sejumlah desa baik di Yogyakarta maupun Klaten, kita akan menjumpai beragam kelompok-kelompok desain rumah warga.
Di daerah Prambanan misalnya, di Kelurahan Sumber Harjo dibangun rumah-rumah dome. Rumah dengan plengkung setengah lingkaran. Orang-orang kemudian memberinya julukan ”rumah teletubies”. Sementara itu di Bantul, di Desa Timbul Harjo, tepatnya di Dusun Tembi yang sebelum gempa dikenal sebagai desa wisata dengan berbagai nuansa khas jawa dengan rumah-rumah joglo dan limasan-nya, juga dibangun rumah-rumah berbentuk empat persegipanjang yang minimalis. Rumah berukuran 4X 6 meter itu terbagi menjadi 3 ruangan, dan 2 diantaranya adalah kamar dengan ukuran yang cukup sempit. Serta rumah-rumah lain yang kurang lebih sama dengan kedua desa tersebut.
Selain memberikan pemandangan yang unik, interaksi yang terjadi antara masyarakat dan para teknisi bangunan yang terjun di lapangan juga telah membuka peluang bagi masyarakat untuk bisa banyak belajar. Diantaranya adalah pengetahuan dan pengalaman membangun rumah tahan gempa. Namun sayang, ketatnya prasyarat yang ditetapkan oleh lembaga terkadang menjadi kendala bagi proses dialektika pengetahuan dan ketrampilan masyarakat setempat. Bahkan biasanya lembaga pemberi dana tidak memberi banyak pilihan kepada warga, minimal untuk mengkolaborasikannya dengan pengetahuan lokal mereka. Misalnya pada bentuk bangunan, bahan-bahan yang digunakan, dsb. Sehingga masyarakat dalam hal ini akhirnya hanya bisa menerima saja.
Pembangunan rumah tahan gempa ini tentunya telah dirancang sedemikian rupa. Harapannya masyarakat bisa memanfaatkannya sebagai tempat tinggal yang nyaman, termasuk bisa merasa aman dari trauma gempa. Namun kiranya suntikan pengetahuan tentang konstruksi tahan gempa saja tidak cukup untuk mengubah kesadaran sebagian warga. Karena bagi masyarakat Jawa, rumah sesungguhnya bukan sekadar bangunan fisik belaka. Melainkan ada penyatuan jiwa antara rumah dan penghuninya.
Mbah Tugiyem misalnya, warga RT 15 RW 7 Desa Brangkal ini menerima bantuan pembangunan pondasi, kerangka dan atap. Namun sampai sekarang dia belum menempatinya. Rencananya rumah itu akan dia berikan kepada anaknya. Perempuan berusia 70 tahun ini lebih memilih tinggal di rumahnya yang lama yang sedikit demi sedikit sedang diperbaikinya. Tidak banyak alasan yang bisa diungkapkan oleh mbah Tugiyem, ”Nggih lek penak-penakan nggih penak teng mriki teng omahe dewe. Wong nggeh pun pinten taun uripe nggih teng mriki,” tuturnya sedikit menerawang seperti berusaha membuka kenangan.
Menurut kisah yang banyak dituturkan para orang tua, rumah memang memiliki nilai filosofi yang tinggi. Salah satu contoh sederhana diantaranya adalah rumah Jawa yang biasanya dicirikan dengan konstruksi bangunan yang terbuat dari kayu, dengan ukuran yang cukup luas, dan model yang sederhana. Konon menurut cerita, masyarakat Jawa adalah masyarakat yang sangat mengutamakan kebersamaan. Ada pepatah yang mengatakan “Mangan ora mangan kumpul”. Kebersamaan menjadi poin penting dalam kehidupan masyarakat Jawa. Mungkin filosofi ini juga lah yang menjadi salah satu alasan mengapa dalam membangun rumah selalu memilih ukuran yang besar, yakni supaya bisa digunakan untuk menampung / tempat berkumpul bagi anak-anak dan saudara.
Selain itu rumah Jawa juga menganut konsep bangunan yang luwes atau fleksibel. Karena terbuat dari kayu, dia mudah untuk dibongkar pasang, mengurangi atau menambah kamar/ ruangan. Tujuannya adalah kalau ada acara hajatan misalnya, rumah bisa digunakan sekaligus untuk tempat pertemuan dan bisa menampung banyak orang. Bahkan rumah tradisional Jawa juga dikenal bisa bertumbuh secara fleksibel, misalnya bisa menambah ruangan atau membangunkan sebuah rumah yang baru di dekat rumah induk untuk anaknya yang sudah atau baru menikah dst.
Maka bagi mbah Tugiyem mengapa dia memilih tinggal di rumahnya yang lama,
mungkin bukan karena tidak mau tinggal di dalam rumah baru yang tahan gempa. Melainkan karena memang ada banyak faktor filosofi dan sejarah yang melandasinya. Namun sayangnya, keluh kesah mbah Tugiyem yang semacam ini hanya akan segera menguap terhempas oleh riuh rendah ramai massa. Karena rupanya perkembangan jaman pun telah menggiring banyak perubahan. Kita tidak bisa menutup mata bahwa saat ini orang lebih banyak cenderung memilih untuk membangun tempat tinggal mereka dari tembok dengan ukuran yang meski mungil namun cantik dan kelihatan modern. Dan selain itu masyarakat jaman sekarang juga dihadapkan pada persoalan yang riil yakni menyempitnya lahan pekarangan baik yang bisa digunakan untuk pertanian maupun tempat tinggal. Jangankan untuk membangun rumah dengan luas yang memadai supaya bisa digunakan untuk acara kumpul keluarga, asal bisa menampung anggota keluarga yang kecil saja itu sudah bagus.
Namun demikian, mbah Tugiyem tetap berterimakasih atas bantuan yang diterimanya. ”Nggih kulo matur nuwun sanget sampun dibantu, wong ngeten niki sak dermo nrimo. Sukur-sukur enten rejeki maleh saged ngge ndandani omehe niki” sambungnya. Saat ini rumah kampung, joglo dan limasan sudah mulai sulit ditemukan. Hanya beberapa orang saja yang masih mempertahankan rumah tradisional jawa ini. Salah satu diantaranya adalah Ibu Suparni. Warga Dusun Gatak ini mengaku cukup beruntung rumah limasan warisan dari orang tuanya itu tidak mengalami kerusakan yang terlalu parah. Sekarang bahkan rumah itu sudah pulih kembali seperti sedia kala. ”Saya eman-eman wong rumah ini juga rumah peninggalan dari orang tua saya, dan saya sendiri juga seneng dengan model rumah yang begini. Lha ini kayu-kayunya juga kan sayang kalau sampai dipugar,” tuturnya memberi alasan.
Bu Suparni mungkin salah satu orang yang beruntung masih bisa mempertahankan rumah tradisional warisan orang tuanya. Jika bagi bu Suparni, rumah itu dia sayangi sebagai warisan tempat tinggal, dalam konteks sosial masyarakat yang lebih besar rumah tersebut juga merupakan warisan budaya yang sangat berharga kelak bagi generasi selanjutnya. ***